Cak Imin Dinilai Lupa Sejarah: Ahmad Rizki HMI Bandar Lampung Kritik Pernyataan yang Memecah Belah
Dok: Ahmad Rizki Rinanda
Kabid politik dan demokrasi HMI Cabang Bandar Lampung.
Bandar Lampung, 14/07/25— Pernyataan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin yang menyebut “Kalau ada yang tumbuh dari bawah, pasti bukan PMII, itu HMI!” memantik respons tajam dari berbagai kalangan. Salah satu suara kritis datang dari internal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sendiri.
Ahmad Rizki Rinanda, Kepala Bidang Politik dan Demokrasi HMI Cabang Bandar Lampung, menyebut pernyataan tersebut sebagai bentuk penyederhanaan sejarah yang menyesatkan dan berpotensi memecah belah kekuatan gerakan mahasiswa Islam di Indonesia.
“Ucapan itu menyesatkan secara naratif dan tidak mencerminkan kematangan sebagai tokoh nasional. HMI tidak pernah merasa eksklusif sebagai satu-satunya gerakan dari bawah. Tapi kami paham betul bahwa perjuangan mahasiswa tak bisa direduksi menjadi kompetisi simbolik,” tegas Rizki.
Ia juga menyayangkan bahwa pernyataan tersebut keluar dari figur yang secara historis merupakan bagian dari lingkungan gerakan mahasiswa Islam.
“Sebagai tokoh bangsa dan mantan aktivis, seharusnya Cak Imin mengajak kita membangun kolaborasi, bukan menyulut dikotomi. Apalagi saat ini, saat organisasi kemahasiswaan sedang dibutuhkan untuk menyuarakan kepentingan publik secara lebih progresif,” lanjutnya.
Menurut Rizki, baik HMI maupun organisasi mahasiswa lainnya memiliki kontribusi masing-masing dalam pembangunan bangsa. Membenturkan satu dengan yang lain hanya akan melemahkan daya kritis kolektif mahasiswa dan memecah energi gerakan.
“Pernyataan seperti itu tidak hanya membenturkan organisasi, tapi juga merusak atmosfer gerakan. Kita seharusnya saling memperkuat, bukan saling klaim paling bawah atau paling besar,” ujarnya.
Saatnya Kolaborasi, Bukan Rivalitas Elit
Rizki menegaskan bahwa HMI menolak politik pecah-belah, baik secara simbolik maupun struktural. Ia mendorong agar semua elemen gerakan mahasiswa Islam kembali pada nilai dasar perjuangan: keberpihakan pada rakyat, intelektualitas, dan keadaban publik.
“Kami memilih terus bekerja untuk rakyat, memperkuat basis, dan menghindari glorifikasi murahan yang hanya menguntungkan elit politik. Gerakan mahasiswa bukan panggung, tapi ruang pengabdian,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sejarah telah mencatat, kekuatan gerakan mahasiswa tumbuh dari konsistensi, bukan dari panggung ucapan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Cak Imin terkait maksud pernyataannya. Namun desakan agar ia mengoreksi pernyataan tersebut semakin kuat.
“Gerakan dari bawah bukan milik siapa pun. Ia milik semua yang berpihak pada keadilan dan keberpihakan sosial,”pungkas Rizki.

Komentar
Posting Komentar