Rintihan Di Malam Penuh Cahaya
-Wulan Octi Pratiwi
Di sunyi malam yang berselimut doa,
angin berbisik lirih di dada,
langit seakan turun ke bumi,
membawa rahmat yang tak terperi.
Bintang gemetar dalam keheningan,
bulan bersujud dalam cahaya,
malaikat turun dengan ketenangan,
mencatat doa yang lirih terbaca.
Tuhan, aku datang dengan lara,
membawa dosa yang menggunung luka,
di malam yang Kau janjikan cahaya,
akankah Engkau masih menerimanya?
Ramadhan, kau hampir pergi,
meninggalkan jejak di hati yang sunyi.
Aku masih terisak dalam sujud,
mengeja doa dengan dada sesak.
Betapa cepat kau berlalu,
seperti angin yang tak bisa kurengkuh.
Sujudku masih penuh cela,
doaku masih berbalut dosa.
Andai aku bisa memelukmu,
menahanmu walau hanya sekejap.
Tapi waktu tak mengenal belas,
kau tetap melangkah tanpa menoleh.
Butiran doa masih mengalir,
bersama harapan yang tak ingin pudar.
Namun, adakah cukup sujud dan dzikir,
atau hanya sesal yang kini menyebar?
Malam-malam yang dulu syahdu,
kini terasa begitu sendu.
Akankah kudapati lagi kesempatan,
menyambut Ramadhan di tahun depan?
Aku takut, ya Rabb...
Takut ini Ramadhan terakhirku.
Takut tak sempat lagi bersimpuh,
takut tak mampu menebus khilafku.
Ya Allah, jika aku telah menyia-nyiakan bulan-Mu,
jangan Kau biarkan aku pergi dengan hampa.
Genggam hatiku, kuatkan imanku,
izinkan aku bertemu Ramadhan-Mu lagi...
Sebelum ajal menjemputku dalam sesal,
tanpa sempat benar-benar kembali.

Komentar
Posting Komentar